Tampilkan postingan dengan label flora dan fauna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flora dan fauna. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juli 2011

Harimau 'Gigi Pedang' Purba Ini Vegetarian

Ilmuwan Amerika Serikat terkejut saat melihat hasil penelitiannya tentang hewan terkuat di dunia, Harimau Sabertooth, yang diperkirakan hidup pada 260 juta tahun lalu. Keterkejutan itu bukan karena kemampuannya mencari mangsa, tapi karena karakteristik makanan. Peneliti menemukan ada jenis dari hewan ini yang vegetarian.

Seperti dilansir harian The Straits, Jumat 25 Maret 2011, peneliti menemukan sisa-sisa jenis tumbuhan di antara taring-taring giginya yang begitu menyeramkan.

http://www.perceptions.couk.com/imgs/sabertooth.gif
Sabertooth
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxXCOw7_sqDFXpgBDbu638k8Lzjeups7IS8yhI-SMdi2mGGCNlcixYZ5rt9jJDv4TWQSxsBCoO3SgtFZz5T7-dfW7uG0u4aUPIzIYlu8t1LOjmrAuKqZW0nTnJeoEjE_vCk-92ZyMIMnQL/s1600/SABERTOOTH.gif
Kerangka Sabertooth
Kucing raksasa seukuran anjing besar itu memiliki taring sepanjang sekitar 13 centimeter. Karakteristik taring sepanjang itu biasanya digunakan hewan untuk menangkap dan membunuh mangsanya sekaligus.

Dalam jurnal yang diterbitkan hari ini, Harimau Sabertooth yang memiliki kebiasaan vegetarian itu diduga hidup di dataran Brazil. Lalu, untuk apa gigi-gigi taringnya yang menyeramkan itu?

Menurut pimpinan peneliti dari Universitas Piaui di Timur Laut Brazil, Juan Carlos Cisneros, gigi-gigi yang panjang itu hanya digunakan untuk melindungi diri dari serangan musuh.

Misalnya, taring-taring itu digunakan saat perebutan teritori tempat hidup dan melindungi si betina. "Temuan hewan jenis ini menunjukkan bahwa betapa alam ini sangat kreatif memberikan solusi untuk kehidupan," kata Juan Carlos.

Harimau Sabertooth juga dikenal sebagai Harimau gigi pedang. Dengan taringnya yang menakutkan, hewan ganas ini paling populer dari binatang yang hidup di zaman es.

Pada umumnya, mereka merupakan karnivora yang paling mengesankan yang pernah hidup. Ada dua macam Sabertooth di dunia ini. Pertama, Harimau gigi pedang dari barat Amerika yang terkenal pada akhir zaman es. Kedua, harimau gigi pedang dari genus Smilodon. Harimau gigi pedang ini diperkirakan memakan binatang besar seperti kuda, kerbau, dan rusa.

Ilmuwan Temukan Kura-Kura Bertaring Tajam

Siapa yang menyangka meski bertubuh kura-kura, makhluk ini miliki taring tajam layaknya mamalia yang gemar memangsa. Yang menarik, hewan itu malah vegetarian.

Ilmuwan menemukan binatang bertarung tajam mirip kura-kura, dikenal dengan nama Tiarajudes eccentricu. Meski menyeramkan, hewan itu termasuk vegetarian dan menggunakan taringnya untuk melawan predator ataupun musuh.

Headline
Ilustrasi (dailymail.co.uk)


Ahli paleontologi vertebrata Juan Carlos Cisneros dari Federal University of Piaui di Teresina, Brazil, mengatakan kepada LiveScience, "Jika Anda bertanya kepada saya seberapa mengejutkan penemuan fosil ini, saya cuma bisa mengatakan keberadaan fosil aneh Tiarajudens eccentricus sama seperti penemuan sebuah unicorn (kuda bertanduk).”

Selain gigi bertaring tajam, makhluk itu memiliki mulut yang sepenuhnya ditutupi gigi. Karena saat hewan tersebut menjelajahi Bumi belum ada rumput,

Diperkirakan Tiarajudens eccentricu mengkonsumsi batang tumbuhan ataupun daun. Cisneros memperkirakan hewan itu memiliki kebiasan mirip sapi dan domba.

"Temuan ini menunjukkan adanya komunitas herbivora di lingkungan darat lebih dari 260 juta tahun lalu," kata Cisneros.

Penelitian itu dipublikasikan di jurnal Science edisi 25 Maret.

Tags: Aneh Ilmuwan Temukan Kura-Kura Bertaring Tajam, Wow Aneh Ilmuwan Temukan Kura-Kura Bertaring Tajam

Arkeolog Temukan Fosil Simosuchus, Buaya Purba Vegetarian

Sejumlah arkeolog telah menemukan kerangka buaya purba vegetarian yang memiliki hidung mirip hidung babi.

Dikenal dengan nama Simosuchus, reptil ini hidup di Madagaskar menjelang akhir jaman dinosaurus-sekitar 66 juta tahun lalu.

Simosuchus berbeda dengan buaya pada umumnya--bermoncong tumpul, bentuk gigi pendek dan tubuh dilapisi semacam kulit seperti baju besi bertulang.

Simosuchus lebih mirip Armadillo dibandingkan dengan buaya biasa, yang bergerak perlahan pada habitat berumput.

Dr. Christopher Brochu, pakar fosil buaya dari Universitas Lowa mengatakan, “Simosuchus merupakan bentuk buaya paling aneh yang pernah ditemukan.”

Memiliki dua kaki panjang, berbadan gemuk dengan moncong tumpul dan memiliki ekor paling pendek dari jenis buaya yang diketahui--Simosuchus tidak dilengkapi organ untuk merebut mangsa hewan seperti kebanyakan buaya modern.

“Simosuchus bertahan hidup di daratan, berperawakan bungkuk dengan postur tubuh lebar yang berarti tidak terlalu lincah atau gesit,” ujar Joseph Sertich, salah satu anggota tim peneliti.

Selain itu, reptil ini memiliki rahang bawah yang pendek dan lemah, dengan gigi berbentuk daun yang hanya memungkinkan untuk mengunyah tumbuh-tumbuhan.

Simosuchus hidup pada habitatnya di padang rumput kering Madagaskar. Buaya ini menyelamatkan diri dari dinosaurus predator dengan membungkukkan badan.

“Dituntut perawatan cermat demi keutuhan dan kelestarian spesimen ini,” ujar Krauser, ilmuwan Universitas Stony Brook, sepeti dilansir Daily Mail.

“Khusus tengkorak dan rahang bawah diawetkan secara khusus,” ujar Kley, asisten profesor Ilmu Anatomi, Universitas Stony Brook.

“Ini, dikombinasikan dengan CT scan resolusi tinggi dari spesimen yang diawetkan paling sempurna, yang memungkinkan kami untuk menggambarkan struktur dari kerangka kepala—baik eksternal maupun internal secara detail bahkan hingga saluran urat saraf terkecil dan pembuluh darah.”

Fosil Hiu Purba Berusia 300 Juta Tahun Ditemukan di Pertambangan

Seorang penambang di Kentucky, Amerika Serikat, baru saja menemukan fosil hewan purba. Fosil tersebut berupa tulang rahang ikan hiu purba yang ditemukan di dalam tambang Kentucky pusat. Saat ini, fosil tulang hiu tersebut sedang dipajang di University of Kentucky.

Pertama kali, fosil itu ditemukan pada Februari silam, tepatnya di Webster County, Kentucky, AS. Penemunya adalah Jay Wright, pria berusia 25 tahun yang bekerja sebagai buruh tambang. Ia bekerja dalam tambang sedalam 210 meter.

Hiu jenis Edestus (gambar: Wikipedia)


Fosil rahang ikan hiu purba jenis Edestus (media.kentucky.com)

Setelah diteliti, fosil tulang rahang hiu purba itu diestimasi berusia 300 juta tahun. Para peneliti mengatakan kemungkinan besar hiu tersebut merupakan gen Edestus yang memiliki habitat di laut yang sekarang telah menjadi Kentucky.

"Astaga, benda apakah ini?" kata Wright saat menceritakan saat pertama kali dia menemukan fosil tersebut di dalam liang tambang, yang dikutip VIVAnews dari Straits Times, Minggu 10 April 2011.

Sementara itu, Jerry Weisenfluh, Associate Director of the Kentucky Geological Survey in Lexington mengatakan bahwa fosil berukuran besar seperti ini sangatlah langka. Tak heran jika fosil tersebut menyita perhatian pengunjung di lobi Gedung Pertambangan dan Mineral di University of Kentucky.

Fosil Hiu Purba Ditemukan di Pertambangan, Wow Fosil Hiu Purba Ditemukan di Pertambangan, Pria Temukan Hiu Purba di Pertambangan

Burung Zaman Dinosaurus Gunakan Hidung untuk Bertahan Hidup

Ilmuwan mengklaim indera penciuman menjadi cara optimal bagi burung di zaman dinosaurus untuk bertahan hidup. Berbeda dengan dinosaurus, burung terus hidup. Kenapa?

Ilmuwan percaya, meskipun burung berevolusi menjadi makhluk lebih kecil, berbulu namun ternyata indera penciuman mereka tetap berkualitas sejalan meningkatnya sistem keseimbangan dan koordinasi penerbangan hewan ini.

Burung jaman Dinosaurus

"Indera penciuman itulah yang membantu kehidupan burung," ujar Darla Zelenitsky, ahli paleontology di University of Calgary.

Untuk melihat bagaimana indera penciuman burung berubah sejalannya evolusi, ilmuwan menganalisis 130 jenis burung yang hidup, tujuh fosil burung dan 20 jenis fosil dinosaurus Theropoda serta Tyrannosaurus rex.

Ilmuwan menemukan bahwa indera penciuman burung berkembang dengan baik selama evolusi Theropoda menjadi burung modern. Namun, ada beberapa jenis burung yang mengalami penurunan kualitas penciuman.

"Beberapa burung modern menunjukkan kualitas penciuman yang baik untuk mencari makan dan navigasi. Ini menjadi keunggulan kompetitif atas dinosaurus lain untuk bertahan hidup," kata Zelenitsky yang mempublikasikan penelitiannya di jurnal Proceedings of the Royal Society B.

Sumber Mitologi Yunani dari Fosil Purba

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/04/14/1842127620X310.jpg

Bangsa Yunani telah lama mempelajari fosil purbakala dan diperkirakan menjadikannya sebagai sumber inspirasi mitos mereka. Sepotong tulang paha makhluk purba diperkirakan telah menjadi sumber inspirasi dalam pembentukan mitos bangsa Yunani kuno.
Bangsa Yunani telah lama mempelajari fosil purbakala dan diperkirakan menjadikannya sebagai sumber inspirasi mitos mereka. Sepotong tulang paha makhluk purba diperkirakan telah menjadi sumber inspirasi dalam pembentukan mitos bangsa Yunani kuno.

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/04/14/1842127620X310.jpg

Potongan tulang yang dikenal dengan nama tulang Nichoria itu merupakan bagian dari tubuh mamalia purba raksasa yang hidup di selatan Yunani sekitar satu juta tahun yang lalu.

Setelah orang-orang Yunani kuno menemukannya, muncullah makhluk-makhluk buas dalam mitologi Yunani klasik yang inspirasinya bersumber dari tulang tersebut.

Menurut Adrienne Mayor, seorang peneliti Classics and History of Science di Stanford University, fosil-fosil spesies purba raksasa, seperti halnya tulang Nichoria, kemungkinan besar menjadi sumber inspirasi bagi terciptanya makhluk-makhluk buas legendaris dari mitologi klasik.

Lebih lanjut, Mayor menggali akar beberapa mitos Yunani klasik dan menemukan bukti yang menunjukkan fosil prasejarah ditemukan di tempat yang sama berkembangnya mitos tentang makhluk raksasa muncul.

Mayor memperkirakan, orang Yunani kuno menemukan fosil tulang tersebut dalam batu bara muda di cekungan Megalopolis yang dalam kajian prasejarah dikenal sebagai Medan Pertempuran Para Raksasa.

"Banyaknya fosil tulang raksasa di tempat itu memunculkan mitos tetang terbunuhnya seluruh tentara raksasa oleh hantaman petir Zeus," tambah Mayor.

Tulang Nichoria sendiri ditemukan di sebuah akropolis kuno di Nichoria antara tahun 1969 dan 1975 oleh para ahli arkeologi anggota tim Minnesota Messenia Expedition.

Fakta bahwa tulang itu disimpan dalam akropolis yang berada 35 mil dari batu bara muda tempat tulang ditemukan menunjukkan bahwa bangsa Yunani kuno memiliki ketertarikan besar terhadap fosil.

Arkeolog Berhasil Menemukan Dinosaurus "Iblis" Periode Triassic

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/04/14/1653593620X310.jpg

Dinosaurus baru yang diberi nama "Evil Spirit Buck-Toothed Reptile" alias reptil roh setan bergigi jelek atau dalam nama ilmiah Daemonosaurus chauliodus ditemukan di New Mexico. Si iblis ini merupakan dinosaurus penghubung antara dinosaurus tertua dan dinosaurus Jurassic spesies theropod.
Dinosaurus baru yang diberi nama "Evil Spirit Buck-Toothed Reptile" alias reptil roh setan bergigi jelek atau dalam nama ilmiah Daemonosaurus chauliodus ditemukan di New Mexico. Si iblis ini merupakan dinosaurus penghubung antara dinosaurus tertua dan dinosaurus Jurassic spesies theropod.

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/04/14/1653593620X310.jpg

Dinosaurus yang hidup 205 juta tahun yang lalu ini setinggi anjing besar dengan tulang yang tidak biasa. Demikian jelas Hans-Dieter Sues, ahli purbakala vertebrata di National Museum of Natural History di Washington DC. "Moncongnya pendek dan gigi depannya besar-besar," katanya. Ia juga menambahkan, "Jenis struktur tulang yang tidak dikira pada waktu itu untuk dinosaurus predator."

Dinosaurus tertua yang diketahui hidup 230 juta tahun yang lalu, dalam Periode Triassic. Setelah itu, ada jeda besar dari hasil temuan fosil. Banyak ahli memperkirakan bahwa dinosaurus-dinosaurus awal punah. "Setelah itu predator yang lebih rumit mengambil alih kemudian terjadi diversifikasi pada peralihan periode Triassic ke Jurassic," kata Sues.

Daemonosaurus c ini merupakan jembatan yang menghubungkan kedua grup dinosaurus. Dari fosil yang ditemukan, dinosaurus ini memiliki beberapa ciri yang menghubungkan jeda evolusi antara dinosaurus awal ke dinosaurus yang lebih modern. Berdasarkan analisis terhadap fosil yang ditemukan, dinosaurus ini memiliki ciri Triassic dengan beberapa ciri dari Jurassic.

Ciri Triassic yang dimilikinya, misalnya, jeda kecil antara lubang hidung dan rongga mata. Tulang yang berkaitan dengan kantong udara yang seperti sistem paru-paru burung juga masih punya ciri primitif. Ciri dinosaurus yang lebih modern yang dimiliki Daemonosaurus c ada pada gigi.

"Ini adalah bukti bahwa dinosaurus punya distribusi yang lebih luas," jelas Sue.

Peneliti Amerika Ungkap Kebiasaan Makan Dinosaurus

Menurut peneliti Amerika Serikat (AS), film Jurassic Park memiliki satu konsep benar, velociraptor berburu di malam hari sedangkan dinosaurus herbivora sebaliknya.

Pemahaman konvensional menyatakan, dinosaurus hanya aktif di siang hari, sementara malam hari dihuni mamalia awal berukuran kecil.
Namun menurut National Science Foundation, studi pada fosil tengkorak dan soket mata dinosaurus membuktikan keefektifan prediksi apakah hewan aktif di siang atau malam hari.

Dinosaurus

Ryosuke Motani dan Lars Schmitz dari University of California menerapkan teknik ini pada fosil dinosaurus herbivora dan karnivora, reptil terbang pterosaurus serta burung purba.

Dinosaurus besar pemakan tanaman aktif di siang dan malam hari dikarenakan hewan ini harus makan setiap saat, sedangkan velociraptor dan karnivora kecil lain melakukannya di malam hari.

Schmitz dan Motani tak bisa mempelajari karnivora besar seperti Tyrannosaurus Rex karena tak ada fosil yang memiliki soket mata memadai.

Ilmuwan Temukan Fosil Laba-Laba Terbesar Jaman Dinosaurus

Ilmuwan menemukan fosil laba-laba besar dari jaman dinosaurus di tumpukan abu vulkanik kuno di Mongolia, Daratan China.

Laba-laba yang diberi nama Nephila Jurassica tersebut ditemukan terkubur di dalam abu vulkanik kuno di wilayah Mongolia.

Fosil berusia 165 juta tahun tersebut adalah jenis tertua dari laba-laba raksasa yang hidup hari ini, Nephila, yang ukurannya cukup besar untuk memangsa burung dan laba-laba. Demikian seperti yang dikutip dari Fox News, Kamis (21/4/2011).

Fosil Nephila Jurassica (foto: Paul Selden)

Fosil tersebut memiliki ukuran lebar tubuh 2,5 cm dan kaki sepanjang 6,3 cm, hampir mirip dengan laba-laba raksasa yang ada sekarang

"Laba-laba raksasa ini mungkin hidup di hutan yang berdekatan dengan danau," ujar Paul Selden dari Paleontological Institute di University of Kansas.

"Mungkin juga dulu ada gunung di dekat lokasi penemuan fosil, ini terlihat dari tumpukan abu vulkanik kuno di sekitar fosil temuan ini," tambahnya.

Selden mengatakan penemuan ini bisa membantu pemahaman kita akan evolusi laba-laba dari jaman dinosaurus hingga saat ini.

Para ilmuwan tersebut menjelaskan detil lengkap penemuan ini di jurnal online Biology Letters edisi 20 April.

Ilmuwan Temukan Bukti Persaingan Pada Fosil Ichthyosaurus

Kehidupan samudra di zaman purba pun diwarnai persaingan. Bekas gigitan pada fosil membuktikan hal tersebut.

Para ahli menemukan bekas gigitan yang telah sembuh pada rahang bawah ichthyosaurus, reptil laut serupa lumba-lumba yang hidup di zaman dinosaurus.
Mereka melihat bekas gigitan yang cukup jelas terlihat itu saat membersihkan dan menyusun kembali kerangka ichthyosaurus di laboratorium.

Ilustrasi Ichtyosaurus.

Ukuran dan jarak gigi yang terdapat pada bekas gigitan cocok dengan beberapa jenis hewan lain. Meski begitu, para ahli yakin, bekas gigitan tersebut merupakan gigitan ichthyosaurus dewasa lainnya.

Mereka pun menyimpulkan, penyebab luka adalah pertarungan yang terjadi ketika bersaing memperebutkan makanan, pasangan kawin, ataupun wilayah kekuasaan. Adanya bukti-bukti kesembuhan luka menunjukkan, hewan ini berhasil bertahan hidup dari serangan yang terjadi.

"Jejak patologis pada tulang dan gigi yang telah menjadi fosil membuka wawasan kehidupan dan perilaku sosial baru dari hewan yang telah punah," kata Benjamin Kear, salah satu ahli yang terlibat dalam studi tersebut yang juga seorang asisten profesor Palaeobiology Programme di Uppsala University, dalam rilis persnya, Rabu (4/5/2011).

Ichthyosaurus adalah reptil predator laut yang dapat berenang dengan cepat dan memangsa ikan dan hewan serupa cumi-cumi. Panjang tubuh ichthyosaurus dewasa bisa mencapai 6 meter, dengan bentuk kepala bermoncong panjang seperti lumba-lumba. Susunan gigi ichthyosaurus mirip dengan buaya, dengan jumlah lebih dari 100 buah.

Bukti Persaingan, Fosil Bekas Gigitan, Pesaingan perebutan makanan pada jaman dinosaurus

Ditemukan, Fosil Semut Seukuran Burung

Sungguh kejutan. Ditemukan fosil semut "monster" di Wyoming, Amerika Serikat, yang diperkirakan berumur 50 juta tahun. Disebut monster karena panjang tubuhnya 5 sentimeter, sedangkan temuan di luar AS "hanya" 3 sentimeter.

Fosil utuh itu ditemukan pada Formasi Green River oleh kolektor fosil, Louis Lube. Kini fosil itu disimpan di Museum Sains dan Alam Denver.


Ukuran fosil semut ini seukuran burung

"Ini semut raksasa, seperti jenis semut raksasa lain di Jerman," kata ahli serangga purba, Bruce Archibald, dari Simon Fraser University, ketika disodori temuan itu oleh kurator museum.

Archibald menamainya Titanomyrma lubei. Ada pertanyaan seputar keberadaan semut raksasa di sejumlah benua. Diduga si semut monster itu bermigrasi dari benua di luar Amerika ke Wyoming, beberapa juta tahun silam, melintasi daratan Arktik ketika temperaturnya masih hangat.

Ilmuwan Pelajari Misteri Kepunahan Thylacine

Binatang berkantong yang telah punah, thylacine, diketahui berburu mangsa seperti kucing ketimbang anjing meski anatomi binatang itu menyerupai anjing. Fakta ini memaksa ilmuwan mencari teori baru atas kepunahan binatang asal Australia, Tasmania, dan Guinea Baru itu.

Thylacine memiliki rupa yang unik. Binatang ini memiliki kepala menyerupai anjing, rambut punggung bercorak belang, dan membawa anaknya menggunakan kantong di perutnya. Hal inilah yang membuat binatang ini dijuluki harimau Tasmania dan serigala berkantong.


Gambar sketsa Thylacine (depan) dan Dingo.

Binatang ini terakhir terlihat di Australia 3.000 tahun lalu. Pada mulanya, peneliti berpendapat thylacine kalah bersaing dengan spesies anjing liar dingo karena menggunakan strategi berburu yang sama. Kekalahan ini membuat thylacine punah.

"Dingo adalah spesies serigala. Mereka jenis pelari," ujar Borja Figuerido, peneliti dari Brown University. "Jika thylacine adalah penyergap, teori kepunahan akibat kalah bersaing dengan dingo kurang memungkinkan."

Peneliti mempelajari sambungan tulang siku binatang itu dan membandingkannya dengan 31 mamalia lain. Mereka menemukan sendi siku thylacine menyerupai sendi kucing yang memungkinkan gerakan memutar cakar. Anjing dan serigala tidak memiliki kemampuan seperti itu. "Karakter anatomi mengungkap strategi berburu thylacine," ujar Figuerido. "Mereka lebih mungkin sebagai penyergap."

Terbatasnya kemampuan rotasi sendi siku anjing dan serigala menjadikan binatang ini, juga dingo, sebagai pelari yang cepat. Akibatnya, mereka berburu dalam kelompok besar, membuntuti mangsanya dari jarak jauh. Adapun dari hasil penelitian, peneliti menyimpulkan thylacine merupakan pemburu penyendiri dan menyerang mangsa dengan cara menyergap layaknya kucing.

Mamalia berkantong atau marsupial banyak ditemui di Australia dan beberapa kawasan di bumi belahan selatan. Binatang tipe ini mirip mamalia berplasenta, seperti manusia, anjing, dan kucing, tapi terpisah dari pohon evolusi pada Periode Cretaceous sekitar 125 juta tahun lalu.

Evolusi dua kelompok mamalia ini adalah contoh evolusi konvergen, yaitu dua kelompok berbeda pada lokasi berbeda mengembangkan morfologi yang sama untuk menghadapi habitat serupa. Thylacine sendiri pada awalnya dianggap sebagai perwujudan serigala berkantong, dengan ukuran tubuh dan kebiasaan makan yang sama. "Namun konsep ini harus ditinjau ulang," ujar dia.

Dengan Sinar-X, Ilmuwan Ungkap Fosil Laba-laba Berusia 49 Juta Tahun

Teknologi pencitraan dengan komputer berhasil menguak keberadaan fosil laba-laba yang telah terjebak selama 49 juta tahun di batu ambar. Ambar adalah resin pohon yang telah membatu, sementara resin adalah bahan semipadat semacam getah yang dikeluarkan dalam kantong atau saluran melalui sel epitel pada tanaman.

Dalam publikasinya di jurnal Naturwissenscaften terbaru, ilmuwan mengungkapkan bahwa fosil laba-laba yang terjebak dalam ambar itu termasuk genus yang masih eksis hingga kini, yakni Sparassidae atau kelompok laba-laba huntsman. Nama spesies laba-laba itu sendiri adalah Eusprassus crassipes.


Fosil Eusprassus crassipes berumur 49 juta tahun terjebak di dalam batu ambar, resin yang mengeras. Bentuknya terlihat dengan sinar-X.

David Penney, ilmuwan Universitas Manchester, yang melakukan penelitian ini, mengatakan, "Kepingan ambar yang tua dan bersejarah ini telah bereaksi dari waktu ke waktu dan sekarang menjadi gelap dan retak, membuat sulit untuk mengenali spesimen hewan yang ada di dalamnya." Untuk melihatnya, ilmuwan harus menggunakan teknik tomografi sinar-X.

"Hasilnya mengagumkan. Tomografi komputer menghasilkan citra 3 dimensi dan klip dengan kualitas yang bagus. Kita mampu membandingkan detail dari fosil dalam ambar tersebut dengan laba-laba yang masih hidup," lanjut Penney. Tak diragukan, fosil itu merupakan kelompok laba-laba huntsman.

"Hasil penelitian ini menarik karena metode yang digunakan ternyata berhasil dan bahwa spesimen penting yang terjebak dalam ambar yang gelap bisa diinvestigasi dan dibandingkan dengan kerabatnya yang masih eksis hingga kini," urai Penney. Menurut dia, 1.000 jenis laba-laba telah diidentifikasi dan sebagian besar ditemukan di ambar.

Laba-laba huntsman, seperti yang dideskripsikan Penney, memiliki ukuran relatif besar, aktif, dan sebenarnya sulit terjebak di ambar. Jenis laba-laba ini kini bisa ditemukan di wilayah tropis Eropa selatan. Namun, 50 juta tahun lalu spesies ini hidup di wilayah Eropa tengah.

Ilmuwan Ungkap Fosil Laba-laba Berusia 49 Juta Tahun, Sinar-X Ungkap Fosil Umur 49 Juta Tahun, Menggunakan Sinar-X, Ungkap Fosil Umur 49 Juta Tahun

Ilmuwan Ungkap Teori Baru Punahnya Nenek Moyang Manusia

Sebuah studi yang diketuai oleh Etty Indriati, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Indonesia melakukan investigasi dari dua situs di sungai Bengawan Solo. Dari penelitian, disimpulkan bahwa Homo erectus kemungkinan tidak tinggal di habitat yang sama dengan manusia modern.

Temuan ini memunculkan keraguan pada teori evolusi manusia sebelumnya dan mengindikasikan bahwa nenek moyang manusia modern itu punah jauh lebih awal dibandingkan perkiraan sebelumnya.


Homo erectus, nenek moyang homo sapiens
Seperti diketahui, Homo erectus, yang meninggalkan Afrika sekitar 1,8 juta tahun lalu, disepakati sebagai nenek moyang langsung spesies kita yakni Homo sapiens. Kedua spesies ini sebelumnya diyakini pernah hidup berdampingan. Setidaknya sampai muncul teori baru yang membantah itu.

Selama ini, ilmuwan memperkirakan, sekitar 500 ribu tahun lalu Homo erectus lenyap dari Afrika dan sebagian besar Afrika dan diperkirakan, bertahan hidup di Indonesia hingga 35 ribu tahun lalu. Adapun Homo sapiens awal tinggal di kawasan Indonesia sejak 40 ribu tahun lalu dan tinggal bersama dengan nenek moyangnya tersebut.

Penelitian yang dilakukan Etty dan timnya menunjukkan bahwa asumsi selama ini tidak benar dan Homo erectus lenyap jauh sebelum kedatangan Homo sapiens di Asia.

“Homo erectus kemungkinan tidak tinggal di habitat yang sama dengan manusia modern,” kata Etty, seperti dikutip dari DailyMail, 5 Juli 2011.

Dari ekskavasi dan analisa waktu, hasilnya mengindikasikan bahwa Homo erectus punah setidaknya 143 ribu tahun lalu, dan bahkan mungkin lebih dari 550 ribu tahun lalu.

Jika demikian yang terjadi, maka temuan ini membantah teori ‘Out of Africa’ yang sudah disepakati sebelumnya yakni hipotesis seputar manusia modern telah berevolusi sepenuhnya di Afrika sebelum bermigrasi ke belahan lain di Bumi.

Teori itu memperkirakan terjadinya overlap antara Homo sapiens dan spesies lebih tuah yang mereka gantikan di luar Afrika. Homo erectus yang ditemukan masih bertahan hidup di Indonesia pada masa itu dianggap sebagai bukti pendukung teori tersebut.

Dengan temuan terbaru, peneliti menawarkan hipotesis baru bahwa manusia modern berevolusi dari spesies terdahulu di Afrika, Asia, dan Eropa. Hasil temuan ini sendiri dipublikasikan di jurnal Public Library of Science ONE.

Kiat Kura-kura Hadapi Bencana Meteor

Kura-kura Boremys yang selamat dari tabrakan meteor yang melenyapkan dinosaurus sepertinya sama sekali tidak terpengaruh oleh bencana besar itu. Demikian menurut hasil studi yang dilaporkan dalam Society of Vertebrate Paleontology.

Menurut Walter Joyce dari University of Tubingen, kura-kura air mampu bertahan karena kemampuan alami untuk bertahan dalam kondisi berat.


"Ketika temperatur terlalu dingin, mereka melakukan hibernasi. Ketika terlalu panas atau kering, mereka akan menggali lubang dalam lumpur dan menunggu kekeringan lewat," jelas Joyce. "Rupanya kemampuan itu juga berguna ketika tabrakan meteor 65 juta tahun yang lalu," tambah Joyce.

Berdasarkan fosil yang ditemukan di Hell Creek dan Fort Union di barat daya Dakota Utara dan sebelah timur Montana, ilmuwan menerka Boremys hidup 80 hingga 42 juta tahun yang lalu. Spesies yang mereka temukan menyukai daerah rawa di sekitar sungai tropis.

Boremys memakan tanaman lunak, moluska kecil, serangga dan ikan. Boremys terkecil memiliki panjang 25 sentimeter, sedangkan yang terbesar bisa mencapai 80 sentimeter.

Boremys tidak memiliki hubungan dekat dengan kura-kura modern. "Tetapi, mereka punya kebiasaan yang sama dengan kura-kura modern," jelas peneliti.

Saat meteor menabrak Bumi 65 juta tahun yang lalu, sebagian besar spesies dinosaurus yang punah. Sebagian lagi mengalami kehilangan individu dalam jumlah yang sangat besar. Sementara beberapa jenis lain, seperti kura-kura Boremys, mampu selamat.

"Hewan-hewan besar mati dalam jumlah ribuan. Sementara itu amfibi, seperti kodok dan salamander, juga reptil, masih bisa bertahan karena mereka punya teknik yang membantu mereka hidup di kondisi sulit," kata Joyce.

Joyce juga menambahkan, hewan yang selamat masih harus menghadapi masalah. "Mereka tidak selalu mampu bertahan dari pemangsa," katanya.

Kura-kura modern saat ini pun menghadapi masalah itu. "Ironis, hewan yang sudah ada sejak 220 juta tahun yang lalu sekarang hampir punah karena aktivitas manusia. Mereka selamat dari asteroid, tapi tidak selamat dari spesies kita," kata James Parham, peneliti dari Field Museum of Natural History.

Tyrannosaurus rex Lebih Seram dari T. Rex

  Apakah Anda mengira Tyrannosaurus rex merupakan dinosaurus predator yang paling besar dan mengerikan? Jika demikian, perkiraan Anda salah.
Tyrannosaurus rex dewasa maksimal dapat tumbuh hingga tinggi 4 meter dan panjang sekitar 12 meter. Ia masih kalah raksasa dengan Giganotosaurus carolinii yang bisa tumbuh hingga 5 meter dan panjang sekitar 13 meter. Namun ia juga bukan predator yang paling besar.


Spinosaurus aegyptiacus, dinosaurus carnivora paling besar.

Adalah Spinosaurus aegyptiacus (yang memiliki arti kadal dengan tulang punggung) yang tinggal di kawasan yang kini menjadi Afrika Utara, merupakan dinosaurus carnivora yang paling besar.

Hewan yang hidup di tahap Albian sampai Cenomanian, di dalam periode Cretaceous (sekitar 112 sampai 97 juta tahun lalu) bisa tumbuh hingga 18 meter dan tinggi 6 meter dengan berat hingga 23 ton. Berikut perbandingan Spinosaurus dengan dinosaurus carnivora lainnya:


Tengkorak kepala Spinosaurus panjang dan pipih, serupa kepala buaya. Di punggungnya terdapat tulang semacam layar yang bisa tumbuh hingga 1,65 meter.

Hewan ini punya tujuh gigi di setiap sisi mulut depan dan 12 gigi di setiap sisi rahang dalamnya. Tidak seperti dinosaurus carnivora lain yang memiliki gigi cenderung melengkung, gigi milik Spinosaurus tegak lurus dan kemungkian berfungsi seperti pisau yang lebih memudahkan untuk memakan mangsa yang licin.

Seperti layaknya beruang grizzly modern, Spinosaurus menghabiskan banyak waktu di atau di dekat air untuk menangkap ikan. Namun dinosaurus dengan ukuran tersebut kemungkinan tidak hanya memakan seafood, tetapi juga membunuh dan memakan dinosaurus lain. Termasuk memakan daging bangkai dinosaurus. Dinosaurus Ini Lebih Seram dari T. Rex

Triceratops, Dinosaurus Terakhir yang Hidup di Bumi

Triceratops diperkirakan menjadi dinosaurus nonburung terakhir di muka Bumi. Kesimpulan ini ditarik setelah ilmuwan mempelajari fosil yang diangkat dari Hell Creek Formation, Montana, Amerika Serikat. Triceratops ini merupakan dinosaurus termuda yang pernah ditemukan.

Temuan Triceratops yang sangat dekat dengan bencana meteor 65 juta tahun yang lalu ini juga kemungkinan menyanggah teori yang menyebutkan bahwa kepunahan dinosaurus berlangsung bertahap. "Studi kami malah menunjukkan, kepunahannya akibat tabrakan meteor," kata pemimpin studi Tyler Lyson kepada Discovery News.


Sosok Triceratops dari fosil tulang-belulangnya yang disimpan di Museum Senckenberg, Frankfurt, Jerman.

Tabrakan meteor di Semenanjung Yucatan, Meksiko, tersebut memusnahkan sebagian besar dinosaurus, utamanya dinosaurus yang tidak dapat terbang. Dengan mempelajari lapisan-lapisan geologis di daerah itu, Lyson dan timnya mendapati bahwa dinosaurus tiba-tiba menghilang setelah bencana besar.

Sementara itu, teori punahnya dinosaurus secara bertahap didasari celah kosong setebal 3 meter di zona geologis tempat fosil-fosil dinosaurus ditemukan sebelum bencana. Triceratops yang ditemukan di Hell Creek berada di atas zona 3 meter tersebut.

"Ini menunjukkan ada satu spesies, atau bahkan lebih, yang masih hidup ketika bencana terjadi," ujar seorang peneliti.

Menurut Stephen Chester, salah seorang peneliti yang juga terlibat dalam studi, lokasi penemuan penting. "Selain dinosaurus, kami juga menemukan keanekaragaman mamalia kecil yang pertama kali terdokumentasi setelah bencana. Mamalia menjalani adaptasi dan mulai mengisi tanah-tanah kosong," ujar para peneliti.

Sampai saat ini, ilmuwan belum mampu menemukan alasan yang tepat untuk menjelaskan cara mamalia, kura-kura, dan beberapa hewan lain bisa selamat dari bencana meteor. Triceratops, Dinosaurus Terakhir yang Hidup di Bumi